Don't Show Again Yes, I would!

Opini atau Fakta? Bagaimana Algoritma Media Sosial Membentuk Cara Kita Berpikir

Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kita menghabiskan berjam-jam menelusuri berbagai platform, membaca berita, dan berinteraksi dengan konten yang disajikan oleh algoritma media sosial.

Namun, tahukah kamu bahwa konten yang kamu lihat telah diatur sedemikian rupa oleh sistem algoritma yang kompleks? Artikel ini akan mengupas bagaimana algoritma membentuk cara kita berpikir dan memahami dunia.

Algoritma Media Sosial: Bagaimana Cara Kerjanya?

Apakah kamu pernah memperhatikan bahwa konten-konten yang kamu nikmati pada akhirnya akan terus lewat di FYP atau di timeline? Itulah cara kerja algoritma media sosial.

Dari Engagement ke Filter Bubble: Konten yang Disajikan Sesuai Preferensi

Algoritma media sosial bekerja dengan menganalisis perilaku pengguna secara mendalam. Apa yang kamu sukai, komentari, dan bagikan menentukan apa saja konten-konten selanjutnya yang bersliweran. Bahkan, aplikasi tertentu (TikTok) melihat minat pengguna berdasarkan durasi tonton.

Tujuan utama algoritma media sosial tentunya adalah memaksimalkan engagement atau keterlibatan pengguna. Dengan algoritma yang sesuai minat, kamu bakal betah untuk berlama-lama stay di media sosial tersebut.

Apa Dampaknya terhadap Cara Kita Memahami Fakta?

Personalisasi ini ternyata punya konsekuensi serius terhadap persepsi kita tentang realitas. Ketika algoritma terus-menerus menyajikan konten yang sesuai dengan pandangan kita yang sudah ada, kemampuan kita untuk memahami fakta secara objektif menjadi terdistorsi.

Kita mungkin mulai percaya bahwa pandangan yang terus-menerus kita temui adalah pandangan mayoritas, padahal sebenarnya hanya sebagian kecil dari keseluruhan spektrum opini. Hal ini terjadi kita terus mengonsumsi jenis konten yang sama.

Opini atau Fakta? Ketika Media Sosial Menjadi Sumber Utama Berita

Penelitian menunjukkan bahwa algoritma cenderung mendorong polarisasi. Dengan menyajikan konten yang memancing reaksi emosional kuat, baik itu kemarahan, kegembiraan, atau ketakutan, platform media sosial secara tidak langsung memperkuat pandangan yang ekstrem.

Konten moderat yang lebih berimbang cenderung tidak mendapatkan engagement yang tinggi sehingga jarang muncul di feed pengguna. Akibatnya, kita semakin terbiasa melihat dunia dalam kerangka hitam-putih dan semakin sulit menerima kompleksitas dalam isu sosial dan politik.

Karena kita lebih suka mengonsumsi konten yang bisa menghadirkan perasaan kuat seperti itu, akhirnya demand akan hal-hal seperti itu pun meningkat. Fenomena ini akhirnya seperti lingkaran setan karena pembuat berita pun berusaha memenuhi apa yang disukai masyarakat.

Efek Filter Bubble dan Echo Chamber

Dengan adanya algoritma media sosial, kita cenderung ingin melihat hal-hal yang senada dengan apa yang kita pikirkan dan rasakan. Hal itu memicu filter bubble dan echo chamber. Apakah itu?

Mengapa Kita Cenderung Hanya Melihat Pendapat yang Sepaham?

Filter bubble atau gelembung filter adalah ketika algoritma secara selektif menebak informasi mana yang ingin dilihat pengguna berdasarkan informasi tentang pengguna itu sendiri. Hal ini menyebabkan pengguna terpisah dari informasi yang bertentangan dengan sudut pandang mereka.

Sementara itu, echo chamber atau ruang gema terjadi ketika keyakinan diperkuat melalui pengulangan dalam sistem komunikasi yang tertutup. Kedua fenomena ini bekerja sama menciptakan ruang digital yang jarang menantang pemahaman pengguna medsos.

Apa Risiko dari Informasi yang Hanya Satu Sisi?

Ketika kita hanya terpapar pada satu sisi dari suatu isu, kemampuan kita untuk berpikir kritis dan memahami kompleksitas dunia menjadi terbatas. Kita menjadi rentan terhadap manipulasi dan lebih mudah menerima informasi yang memperkuat prasangka kita tanpa pertanyaan. Dalam jangka panjang, ini dapat merusak fondasi demokrasi yang bergantung pada warga negara yang terinformasi dengan baik.

Apakah Kita Masih Bisa Mendapatkan Informasi yang Seimbang?

Meskipun tantangannya besar, masih ada cara untuk mendapatkan informasi yang lebih berimbang. Pertama, jadilah sadar akan keberadaan filter bubble dan secara aktif cari sumber informasi yang beragam.

Kedua, terapkan skeptisisme yang sehat terhadap konten yang memicu reaksi emosional kuat. Mengambil kendali atas pengalaman digital adalah langkah penting di tengah tsunami informasi dan menuju literasi digital yang lebih baik.

Peran Media Independen dalam Melawan Misinformasi

Media independen yang berkomitmen pada jurnalisme investigatif berkualitas tinggi memainkan peran penting dalam melawan misinformasi. Dengan mendukung sumber berita yang mengedepankan akurasi daripada klik, kita membantu memastikan bahwa fakta tetap menjadi mata uang dalam wacana publik, bukan sekadar opini yang populer.

Di tengah lautan informasi yang semakin dalam dan bergelombang, kemampuan untuk membedakan antara opini dan fakta menjadi keterampilan hidup yang penting. Dengan memahami cara kerja algoritma dan dampaknya terhadap persepsi kita, kita dapat lebih bijak dalam menjelajahi dunia digital dan mempertahankan kemampuan berpikir kritis kita.

Sebagai pembaca media lokal katalokal.id, mari wujudkan literasi digital yang lebih baik dengan bersikap kritis terhadap berbagai informasi yang kita baca!

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *